Pages

Kamis, 23 Januari 2014

SAHARA



Apa yang ditakutkan dari kematian?
Karena sesungguhnya ia janji yang tak pernah ingkar
Apa yang dicemaskan dari kesepian?
Karena sesungguhnya ia hanya tamu yang singgah sebentar
Apa yang dinantikan dari kesabaran?
Karena sesungguhnya ia tepian yang rentan terbakar

DONGENG MUSIM



Usai sudah musim kedua,
purnama lupa masa
laut lepas, badai samar-samar
di pantai tersisa memar
istana pasir hilang rupa
landai, ceruk menganga
kepiting-kepiting menyusur liang
mutiara terdampar, hilang cangkang
nyiur melambai, langit biru membentang
segala-gala hanya tentang apa
Apa yang luput apa yang sangkut
apa yang surut apa yang sengkarut
menyimpan apa di lelaku sapa
merunduk bagi apa? Untuk apa?
Hujan mungkin akan tiba, mengirim dingin, menghujam gigil
hujan mungkin akan tiba dengan air bah dan pasukan pengail
lalu longsor menimbun sepotong jalan yang terbelah
kemudian apa?
Musim kering datang dengan kereta berkuda
yang berpasang-pasang kakinya memintal debu jadi selimut,
jadi kelambu, memalsukan kabut
tanah rekah, petani resah
kipas-kipas di tangan, di plafon, di dinding, semesta lelah
Lalu kenapa?
Bukankah ini tak yang pertama?
Kemudian apa?
Takkan apa-apa; takkan pernah
Ini bukan kisah sedih, hanya dongeng semata;
Tidurlah!

Rabu, 08 Januari 2014

YANG DATANG BERSAMA HUJAN



Oleh: R. Yulia

Dimuat Hr. Padang Ekspres, 15 Desember 2013

Perempuan itu muncul bersamaan dengan memudarnya matahari pada suatu pagi yang mendung di bulan Desember. Gerimis jatuh tak lama kemudian, seperti tetes embun yang tiba-tiba meraksasa lalu berubah menjadi hujan deras. Hujan yang teramat deras di pagi hari, hujan yang membunuh. Itu kusadari berwaktu-waktu sesudahnya.
Perempuan paruh baya berwajah teduh itu muncul seperti benda yang diminta oleh tongkat ajaib. Kau pasti tahu maksudku. Ya, dia datang begitu tiba-tiba. Bahkan aku tak tahu, ia berjalan dari timur, barat atau utara. Aku lupa tanggalnya, meski ingat itu tak terlalu jauh meninggalkan tanggal muda. Aku baru saja menerima sejumlah uang di dalam amplop dari tangan suamiku.
Perempuan itu berjalan terseok-seok, seperti kelelahan menanggung sekarung beban yang dipanggul di bahu kanannya -kadang ia memindahkannya ke bahu kiri, namun tak meletakkannya sama sekali.
Ia tiba di depan pintu pagar dan mematung seperti hantu, menatapku. Aku yang sibuk menyiapkan keperluan suami yang akan berangkat bekerja dan anak yang akan pergi sekolah, tak begitu memedulikannya.
Aku mendekati perempuan itu sesaat setelah suami dan anakku berangkat meninggalkan rumah, tersenyum ragu dan melirik sekilas pada karung di bahunya. Ia belum meletakkannya sama sekali.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku ramah.
"Apa yang ingin kau ceritakan padaku?" ia balik bertanya tanpa menjawab pertanyaanku. Keningku mengerut, tak paham sama sekali.
"Aku?" Telunjukku terarah ke dada, tak begitu yakin. Ia mengangguk.
"Ya. Ceritakan kesedihanmu." Aku menatapnya setengah melongo. Kesedihan? Apa yang dimaksudkannya?
"Aku bahagia dan tak memiliki sedikitpun rasa sedih. Hidupku sempurna, dengan suami yang baik dan seorang putri yang pintar dan lucu." kataku akhirnya. Perempuan itu tersenyum. Ia memindahkan karungnya ke bahu kanan.
"Kau yakin?" Aku mengangguk.
"Baiklah, meskipun saat ini kupikir saat yang tepat untukmu membagi kesedihan, mungkin tidak menurutmu. Permisi," ujarnya sambil mengangguk sedikit, berbalik dan mengayun langkah menjauh. Aku tertegun menatap punggungnya yang ditunggangi karung.
"Tunggu dulu," cegahku cepat-cepat sebelum langkahnya semakin jauh meninggalkan halaman rumah. Aku menghadangnya. "Ibu akan ke mana?"
"Aku akan mencari kesedihan yang lain sebelum kantung ini menjadi terlampau berat untuk kupikul." Kerut di dahiku semakin dalam dan berlipat-lipat.
"Ibu mengumpulkan kesedihan orang-orang?" Ia mengangguk.


HUJAN


Hari ini hujan tak lagi berwajah sama
seperti kemarin
kemarin dari kemarin
dan kemarin-kemarin
di tangannya tergenggam salju dari negeri jauh
salju abadi yang direkatkan perlahan-lahan pada tapal dan dinding berduri
Hari ini hujan masih berkubang di tempat yang sama
namun urung tersentuh
karena jemari bekunya mengurung puisi
hujan masih kuyup di tempatku berdiri
hujan makin kuyup di tempatku
hujan berkali kuyup
hujan masih
hujan

Selasa, 17 Desember 2013

PENSI LANGKITANG


Oleh : R. Yulia

Dimuat di laman Agamkab.go.id
 
"Tunggulah aku di tepi Maninjau, Uda. Akan kubawakan pensi dan langkitang."
Kalimat itu seperti selendang tipis yang berkibar-kibar dalam ingatan Adib, bergaung di sepanjang ceruk pendengaran, menghamparkan selapis demi selapis kenangan, hingga kian sesak dada pemuda itu oleh air mata. Sesungguhnya, bukankah diharamkan air mata atas anak bujang? Tapi apa daya Adib yang tak kuasa menghalau sebulir yang lepas dari sudut retinanya, meski ujung baju cekatan mengisatnya. Itu air mata yang pertama lolos dari cengkeram keteguhan hati.
Pandangan Adib yang berselaput kesedihan itu menghujam ke permukaan danau yang berkilau keperakan pada riak-riak tipisnya. Dari jangkau penglihatannya Adib mengamati ikan-ikan yang hilir-mudik berenang, mengayuh harapan. Ikan-ikan itu -entahlah apa mereka masih keturunan Bujang Sembilan yang terkena kutukan karena fitnah atas sepasang kekasih – berenang dalam kelompok-kelompok besar. Mereka membagi peruntungan. Duhai, kepada siapakah harus kubagi peruntunganku kelak? Adib mengeluh tertahan. Sungguh kedukaan ini tak tertanggungkan sementara hidupnya harus terus berjalan.
"Adib, jangan berkubang duka terlampau lama. Tanak sudah luka, tak perlu diratap berkepanjangan. Lanjutkan hidupmu. Sekolah yang baru sudah menunggu. Raih cita-cita yang kau genggam, maka semua senyum dan restu akan tercurah untukmu." Itu yang dikatakan Mak Etek dua hari yang lalu ketika mendapati Adib melamun di ambang pintu.
"Sekolah, Mak Etek?"
"Ya. Mak Etek sudah mendaftarkanmu."
"Tapi tanah kubur masih basah. Amak dan Rindu ...."
"Mereka sudah bahagia di sana, Adib. Jangan menunggu tanah kubur kering. Terlampau lama kau meninggalkan sekolah maka akan semakin jauh kau dari harapan Amakmu. Kau anak bujang, harus bisa jadi kebanggaan. Kalaupun tak merantau, bangunlah kampung hingga tersiar ke penjuru jauh." Mak Etek menepuk pundaknya sebelum berlalu.
Adib memungut sebutir kerikil dan melemparkannya sekuat tenaga ke tengah danau. Air memercik berpendar. Ia anak bujang yang malang. Sejak dari tubuh sepanjang galah layang-layang, tak sekalipun ia mendapati sosok di sampingnya yang dapat dipanggil ayah. Ayahnya hilang dalam sebuah kecelakaan pesawat di negeri seberang. Dan kini, saat hatinya tengah hangat oleh sentuhan bunga asmara, Amak dan Rindu berpulang karena longsor yang menerjang perbukitan.
Masih berkerak di ingatannya bagaimana wujud Amak dan Rindu yang berpelukan ditemukan tim SAR terkubur reruntuhan bebatuan besar, lumpur dan pepohonan. Bagaimana ia meraung berkepanjangan dan mencoba menerjang orang-orang kekar yang menggotong tubuh dua sosok pengisi hari-harinya. Amak yang penyabar dan Rindu yang ributnya seperti genderang perang, gaduh namun menyemangati. Bagaimana ia terduduk lemas di lumpur pekat, ketika tungkai kakinya tak lagi mampu menopang tubuh karena tersedot kesedihan.
Air mata Adib memang berhenti kemudian. Saat kedua jenazah itu disalatkan dan dikebumikan, ia hanya terdiam. Menatap seolah-olah, meski tak secuil gambaranpun ia cerna. Adib seperti sepotong kayu yang dihanyutkan gelombang, seperti hantu yang gagap kesiangan.

Selasa, 03 Desember 2013

SENYUM IBU


Dimuat Majalah Gadis no.29, edisi 1-10 november 2013

Oleh: R. Yulia

PELANGI
“Arin ingin membahagiakan Ibu.” Bocah perempuan sepuluh tahun itu berkata dengan sungguh-sungguh. Ia mendongak dengan sepasang mata berbinar cerah yang tertuju pada perempuan paruh baya berwajah ayu yang memangkunya.
“Terima kasih, Sayang. Kau cantik seperti bidadari yang meniti pelangi.” Perempuan itu menggamit dagunya dengan penuh kasih sayang.
“Benarkah, Bu? Berarti ada banyak bidadari di pelangi itu?” Bocah perempuan itu menunjuk pelangi yang menggantung samar di langit. Surya yang baru muncul dari balik awan menyilaukannya. Hujan telah lama berlalu, menggiring awan kelabu.
“Ya.”
“Berarti para bidadari itu tidak sekolah?”
“Tidak. Sama denganmu, kan?”
“Tapi aku tak sekolah karena menjaga Ibu yang sakit. Sementara bidadari itu tak sekolah karena hanya ingin bermain-main di pelangi. Bukankah itu tidak baik?” Perempuan itu tertawa perlahan. Suaranya merdu menggema. Ia menjentik ujung hidung putrinya.
“Kau pintar sekali.”
“Iya, dong. Anak Ibu..” Tawa keduanya berderai.

Rabu, 27 November 2013

AIR MATA SENJA


 foto oleh Syecfich S

R. Yulia

Aku ingin menangis hari ini. Seperti yang pernah kulakukan kemarin, kemarinnya lagi, seminggu lalu, bahkan beratus hari yang telah menjauh. Membiarkan mata, pipi dan tangan penuh dengan linangan air mata. Bukan hanya kesedihan yang memancing kilauan bening itu mengalir, namun juga keharuan, kebahagiaan. Menangis, meluapkan beban yang mengimpit hati, melapangkan kesempitan dan membuatku dapat merapikan ulang kata-kata yang akan terlontar kemudian. Begitulah, semestinya.
Namun kali ini berbeda. Kesedihan itu sudah sedemikian mengental, merongrong hati, mencubit kemarahan dan mendesak-desak di lorong retina. Air mata laksana bah yang tak sabar meronta. Tapi tak ada linangan, kilau berkaca-kaca, konon pula buliran bening yang disusul derai seumpama hujan. Tak ada.
Aku masih menatap jauh, melampaui jendela yang terbentang lebar, menyajikan langit senja yang memerah jingga. Langit yang kusuka.
Tiap-tiap senja, aku berdiri di depan jendela, menanti langit memerah dan surya merambat turun ke garis cakrawala. Aku menatapnya lekat dan menyimpan rekam jejaknya dalam ingatan. Lalu di Rabu pagi yang senantiasa cerah, aku akan menuangkan ingatan itu dalam lembaran kertas gambar. Mewarnainya hingga gradasi merah jingganya benar-benar mengilap dan tak berbatas. Senyumku seketika merekah manakala menatapnya kemudian. Aku memindahkan senja dan itu membuatku bahagia.
Selalu ada senja yang menggayuti mataku. Selalu ada senja di hari Rabu.

AIR MATA


gambar diunduh dari forum.kompas.com

R. Yulia
dimuat pada laman agamkab.go.id 

Sepasang pengantin - kekasih berwajah rembulan dan surya - berjalan lambat saling bergandengan di hamparan karpet merah yang membentang menyelimuti rumput, dengan tepi-tepi yang dijejali rangkaian bunga putih-merah, berkotak-kotak senyum dan berliter-liter doa. Di atas kepala pengantin, nun... langit memberi restu dengan mentari yang sumringah, awan bergaun putih dan bentangan lazuardi tanpa batas.
Aku menatap lurus ke wajah hangat yang tengah tersenyum di depanku. Sementara senyumku meringkuk di dasar hati. Kuamati keseluruhan wajahnya. Menarik. Sepasang mata seteduh telaga yang dinaungi alis berkarakter, hidung mancung dan bibir yang sempurna mewakilkan kehangatan pribadinya.
"Kamu harus menikah, Rahma. Usiamu tak muda lagi. Dua bulan ke depan tiga puluh tahun. Akan semakin sulit untukmu menemukan jodoh yang sesuai dengan keinginan. Pria sebayamu tentu lebih memilih gadis-gadis belia. Sementara yang lebih tua, tentu sudah menikah. Tempat yang bisa dipilih hanya menjadi istri kedua atau simpanan saja. Masya Allah, jangan sampai itu terjadi padamu, Rahma."
Kata-kata ibu mengiang, mengingatkan senantiasa. Seperti alarm yang memekik-mekik di jam tertentu.
Menikah. Kata itu seperti hantu yang selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Lebih khusus lagi, saat bertemu dengan para lelaki yang berada di sekitarku dan yang berusaha memikat serta mengikatku.

Kamis, 21 November 2013

BANGAU, BANGAU


foto oleh E.Andantino

Aku suka foto seperti ini. Kuminta dari seorang teman. Menatapnya seperti mengalirkan kesejukan yang kubutuhkan. Foto yang pas sebenarnya untuk disandingkan dengan puisi. Sayangnya, saat ini kepalaku terlampau penuh dengan kata-kata yang tak berguna. Jadi, puisinya menyusul sajalah..;) Aku namakan saja foto ini; BAYANG SERIBU BANGAU (meskipun bangaunya tak sampai seribu ;). Kulengkapi juga dengan salah satu buku koleksiku; SERIBU BURUNG BANGAU miliknya Kawabata. Mungkin lain kali bisa juga kusandingkan dengan seribu bangau kertas, agar segala harapan menjadi kenyataan..hehe..

Rabu, 20 November 2013

POHON, KAU




Kau belajar dari pohon-pohon
Pohon-pohon belajar dari langit
yang melahirkan hujan
Langit belajar dari udara
dari angin
dari surya
dari rembulan
dari bintang
dari puisi-puisi yang memplagiasi kebiruan
Lalu langit belajar dari tanah
basah
lekat dan gundah
Tanah belajar dari air
muntahan hujan yang mengalir
merembes
menetes
Air belajar dari batu
bergeming, beku
luluh
setelah itu?
Aku;
belajar dari mu

Selasa, 12 November 2013

KITA ADALAH KITA KEMUDIAN




R. Yulia

Kita adalah percakapan sepasang asing
yang melompat-lompat pada bibir jurang dan tebing
kata-kata meletus menyerupai balon
di tangan balita yang kemudian merengek kehilangan
lalu pada suatu waktu percakapan kita menggigil oleh sebab angin yang tak sepaham
hujan yang turun tanpa kabar dan badai yang pernah kau cemaskan
runtuh sudah kata jadi abu, abu berloncatan seperti mata pisau, menikam
mengubur gaduh, berkeriapan
kita kemudian menjelma menjadi demam dan salesma yang mengigau sendirian

KUIJINKAN

 
R. Yulia

Kuijinkan kau bersuara; lantang dan perkasa, menggema hingga ke bilik-bilik tanpa nama
kamar-kamar yang beku dan angkuh, dinding-dinding yang tak sesungguhnya jemu, ladang-ladang
tanpa empu, ilalang patah tepi, sungai sengkarut, awan kelabu muda dan apapun yang tegak memandang
lalu katakan; "Sesungguhnya aku , buih-buih sarapan pagi tadi, yang kau muntahkan di kelok 42."



PESAN, HUJAN



R. Yulia

Hujan mengantarkan sebaris pesan berselimut kuyup
Pintuku enggan terbuka
seribu ketukan hanya mengalir sia-sia
"Pergilah!" suaraku tertelan gemuruh
jemarimu yang mengelupas gaduh

KUBERI KAU NAMA



R. Yulia

Kuberi kau nama, agar dalam keramaian ku bisa menyapa
Tentu, seseorang dan lainnya bisa saja memiliki nama yang serupa
Tapi namamu adalah nama yang satu-satunya beriring dengan napasku
Kupayungi dengan harapan yang membesar waktu ke waktu
Maka saat kupanggil namamu, aku yakin takkan pernah keliru
Karena yang menyerumu bukan hanya suaraku
Tapi hati yang senantiasa didera rindu

Minggu, 13 Oktober 2013

KAMAR SEBELAH


Dimuat Hr. Mimbar Umum, 12 Oktober 2013
Oleh: R. Yulia
Malam seperti tulang-tulang yang menua dengan cepat. Menyisakan suara-suara aneh seperti berkeretak. Juga decap mulut-mulut tak terlihat yang tengah sibuk mengunyah. Melumat cahaya bulan dan menyimpannya di balik rerimbunan awan hitam yang murung. Pekat, tak lebih tak kurang. Senyap, lembab. Bahkan jangkrik pun lupa mengerik
Aku merapikan kembali tirai jendela yang barusan kusibak. Senyap dan gelap, tak punya daya tarik untuk menahanku termangu di kusen dan mengintip keluar lebih lama. Aku menggeser posisi sedikit ke kiri dan kembali berbaring, miring.
Pandanganku jatuh. Lantai keramik di tengah malam begini, di tengah embusan pendingin ruangan selama nyaris enam jam, tentulah sangat dingin. Aku dapat merasakannya, meski berada di atas ranjang. Kemungkinan itu dengan segera menepikan keinginan untuk beringsut. Kutarik kembali selimut hingga menutup ke pangkal leher.
Tak lama, suara langkah yang diseret bergegas mendekati kamar. Aku buru-buru mengatupkan mata dan memiringkan tubuh ke kanan, membelakangi pintu yang sebentar lagi akan terkuak.
Pintu dibuka perlahan. Aku menunggu. Pintu ditutup dan langkah-langkah berat mendekat ke ranjang. Lalu, seseorang yang membaringkan tubuh beratnya di sampingku membuat ranjang bergoyang sesaat.
"Kau sudah tidur?" Hening. Aku enggan menjawab dan memilih tetap berpura-pura. Namun, aku dapat merasakan tatapannya yang tertuju lurus ke wajahku.
"Baiklah, aku juga akan tidur. Selamat malam."
Ranjang kembali bergoyang seirama tubuh di sampingku yang menggeser posisi baringnya Aku membuka mata. Ia memunggungiku.
Aku menatap punggung telanjang itu. Punggung liat yang mengilap oleh keringat yang tak lagi berbulir-bulir seperti dua jam sebelumnya. Kukira, keringat yang lekat dan merembes perlahan ke seprai itu, juga bukan keringat yang kulihat dua jam yang lalu. Kali ini hanya keringat tipis, yang barangkali didapatnya dari kamar sebelah.
Aku mengeluh perlahan, menyembunyikannya dalam-dalam ke bantal.
Ia hanya setengah jam bersamaku, namun menghabiskan waktu empat kali lebih lama di kamar sebelah. Aku menggigit bibir dengan kuat; berharap rasa sakit yang mencekik hati dan menjalar hingga ke paru-paru, yang membuat nafasku tersumbat dan punggung tanganku berkeringat, lenyap!

Kamis, 10 Oktober 2013

ALICE MUNRO, RAIH NOBEL SASTRA 2013

[01-mirror-Alice+Munro-kredit-abebooks.jpg] Alice Munro (82)

Buku karya penulis Kanada, Alice Munro, pemenang Nobel Sastra 2013, dipajang di sebuah pameran buku di Frankfurt (10//10).

Komite Nobel di Stockholm telah mengumumkan Alice Munro, warga Kanada sebagai pemenang Hadiah Nobel 2013 untuk bidang Sastra. Dalam pengumuman hadiah, Kamis (10/10), Komite Nobel menyebut  Alice Munro, warga Kanada berusia 82 tahun sebagai "master” cerita pendek kontemporer.


Cerita-cerita Munro umumnya berlokasi di Kanada, dan sering menggunakan daerah asalnya di barat daya Ontario. Karyanya, sering menyiratkan pencerahan, dan telah dibandingkan dengan penulis Rusia Anton Chekhov, yang juga dianggap sebagai “master” cerita pendek.
Alice Munro, master cerpen dari Kanada cerpen dipuji sebagai penulis sejarah konprehensif dan manusiawi.

Munro adalah penulis Kanada pertama yang menerima penghargaan prestisius dari Swedish Academy ini. Dia mampu menangkap berbagai kehidupan dan kepribadian tanpa menghakimi karakternya. Luar biasa untuk konteks pemenang Nobel karena karya-karya Munro hampir seluruhnya cerita pendek. "Lives of Girls and Women" adalah novelnya.

Kritikus sastra menggambarkan Muncro sebagai Chekov dari Kanada atas kepiawaiannya menyusun narasi.
Munro lahir pada 10 Juli 1931 di Wingham, Ontario dan tumbuh di daerah pedesaan. Sang ayah, Robert Eric Laidlaw, dikenal sebagai petani dan peternak sementara ibunya adalah guru sekolah di satu kota kecil. Munro memutuskan ingin menjadi penulis ketika berusia 11 tahun.

Munro menjadi perempuan ke-13 yang memenangi hadiah ini sejak diselenggarakan pada 1901. Ia berhasil mengalahkan sejumlah sastrawan kondang lain, termasuk novelis Haruki Murakami dari Jepang.

“Saya bahagia dapat mempersembahkan hadiah ini untuk rakyat Kanada. Saya berharap hadiah ini dapat menarik minat dunia terhadap literatur Kanada,” kata Munro.
Menggambarkan Munro, kritikus sastra Amerika David Homel mengatakan kepada kantor berita Perancis baru-baru ini, "Dia menulis tentang perempuan untuk perempuan, tetapi tidak mengutuk lelaki.
  
Munro (82) mulai menulis cerita sejak remaja. Dia utamanya dikenal dengan cerita-cerita pendek dan telah menerbitkan banyak koleksi selama bertahun-tahun.Beberapa karya Munro yang terkenal antara lain "Who Do You Think You Are?" (1978), "The Moons of Jupiter" (1982), No Love Lost (2003), Vintage Munro (2004), Runaway (2004, pemenang The 2004 Giller Prize), The View from Castle Rock (2006), dan Too Much Happiness (2009) Koleksi terakhirnya berjudul Dear Life yang terbit tahun 2012.

Munro dikenal sebagai pendongeng yang baik, dengan ciri kejelasan dan realisme psikologis.

"Tulisannya sering menampilkan penggambaran kejadian keseharian yang menentukan, jenis pengalaman luar biasa, yang menerangi cerita yang melingkupi dan membiarkan pertanyaan eksistensial muncul dalam kilat," demikian pernyataan Swedish Academy.

Munro, yang mendapat hadiah delapan juta crown Swedia atau sekitar 1,25 juta dolar AS dari Komite Nobel, tinggal di Clinton, tak jauh dari rumah masa kecilnya di Ontario Barat Daya, Kanada. 
 Munro mengaku, setiap ide penulisannya berangkat dari pengalaman, anekdot,cerita di masyarakat hingga menjadi sebuah cerita lengkap.Dia juga selalu membiasakan menulis dengan komputer meskipun usianya telah lanjut.Dia juga menulis setiap hari sambil mengerjakan aktivitas rumah. Dia selalu memberikan nasihat kepada penulis muda untuk rajin membaca. Dia mengaku setiap penulis memang memiliki perbedaan dalam gayanya.Bagaimana kita jitu dalam menulis? “Jangan membaca (ketika menulis cerita), jangan berpikir, tapi tulislah,” paparnya.

“Jangan pernah menyerah dengan kesalahan dan kegagalan yang telah Anda perbuat,” imbuh Munro kepada Random House, situs kumpulan penulis ternama. Dalam menulis cerita pendek, Munro mampu menyajikan kisah kehidupan yang menyentuh hanya dalam satu halaman.Dia mengaku bercerita tentang kehidupan tidak lepas dari kedalaman karakter yang dimainkan dalam cerita itu.

“Bercerita dari hal sepele dan itu menjadi bagian paling menarik dalam kehidupan,”paparnya. Munro juga menuturkan bahwa dia selalu menulis di saat yang terbaik dalam kehidupannya.

Koleksi cerita pendeknya yang pertama, Dance of the Happy Shades (1968), meraih penghargaan sastra Kanada The Governor General’s Award. Tiga tahun kemudian karyanya yang lain,Lives of Girls and Women, mendapatkan Canadian Booksellers Association International Book Year Award.Pada 1980, karyanya yang lain, The Beggar Maid,masuk nominasi penghargaan tahunan Booker Prize untuk kategori fiksi. Dia juga pernah tiga kali mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jenderal Kanada untuk kategori fiksi sebanyak tiga kali.

Tak ayal, dia pun menjadi penulis cerita pendek yang termasyhur di Kanada. Sebagian besar tempat ceritanya berada di Southwestern Ontario dan the Canadian Pacific Northwest. Semunya ceritanya mampu mengalir bagi semua pembacanya. Munro mulai menulis cerita pendek sejak dia menjadi mahasiswi di Universitas Western Ontario pada 1950. Cerita pendek tersebut berjudul, “The Dimensions of a Shadow”.Dia keluar dari kuliahnya karena menikah dengan James Munro dan pindah ke Vancouver.

Setelah bercerai dengan suaminya pada 1972, dia kembali menjadi penulis. Pujian atas karya-karya Munro pun terus mengalir.Penulis Amerika Cynthia Ozick menyebut Munro sebagai “(Anton) Chekhov kita”. Chekhov merupakan penulis termasyhur dari Rusia. Ozick mengemukakan, alur dan cerita yang disajikan Munro sangat rapi dan gambaran di dalamnya begitu nyata. Penulis lainnya, Garan Holcombe,mengungkapkan cerita yang ditulis Munro mampu memberikan penerangan dan pencerahan bagi pembacanya.
Munro telah memenangi berbagai hadiah sastra lainnya, termasuk tiga Penghargaan Gubernur Jenderal Kanada, Man Booker International Prize dari Inggris, dan U.S. O. Henry Award untuk prestasi terus-menerus dalam fiksi pendek.

Hadiah untuk prestasi di bidang ilmu pengetahuan, sastra dan perdamaian pertama kali diberikan pada tahun 1901 sesuai dengan wasiat penemu dan pengusaha, Alfred Nobel.
Dihimpun dari berbagai sumber..

SEBUAH KEPUTUSAN



Dimuat Mj.Sekar, 21 September 2011


"Apa-apaan ini?!”
BRAAAK!!
Setumpuk kertas berhamburan di atas meja kerjaku. Aku yang tengah asyik mengecek status facebook, seketika melompat dari kursi. Astaga! Cepat kudekap dada untuk menentramkan jantung yang sontak ber-rock n roll. Hardikan berikut hujan lembaran kertas yang tiba-tiba juga turut menyetrum seluruh tubuhku. Aku menatap sosok di depanku. Ya ampuuun, dia lagi! Satu yang tak kuharapkan pagi ini..
“Kamu itu tamat kuliah nggak sih, Vi?!” Hardikan kedua menamparku. Aku menunduk dalam.
“Mikir itu yang ilmiah dong. Jangan pasaran!”
“Dengar! Aku nggak mau tahu! Yang penting, revisi proposal ini secepatnya. Kutunggu sore nanti di mejaku!!” Suara yang menggelegar penuh kemarahan itu telah mencampakkan seluruh keberanianku untuk berkata-kata.
Kukumpulkan berkas yang berserakan di meja dan lantai dekat kakiku. Proposal yang telah kukerjakan dengan sepenuh hati, telah penuh dengan coretan spidol merah di sana-sini dan beberapa baris tulisan cakar ayam di bagian penutupnya.
“Salah lagi ya?” Aku mendongak. Mbak Dewi, sekretaris direktur.
“Iya, harus diulang. Padahal untuk sore nanti,” keluhku.
“Mungkin kurang detil, Vi. Bos lagi kesal. Nggak ada yang lolos dari dampratannya.” Mbak Dewi setengah berbisik.
“Ya sudah, kerjakan cepat. Aku ke dalam dulu. Ntar kena lagi,” pamit Mbak Dewi sambil bergegas pergi. Aku manggut-manggut. Tidak bisa tidak, aku harus secepatnya mengoreksi proposal yang sudah tak karuan ini. Segera kututup facebook dan membuka file dokumen. Kupejamkan mata sesaat dan menarik nafas panjang. Hmmm, sekarang mulai konsentrasi! Konsentrasi…konsentrasi…konsentrasi…

MATA-MATA


Cerpen ini dimuat Tabloid Nova, 22 Maret 1998

Ini satu-satunya cerpenku yang tidak disertai ilustrasi. Mungkin karena karakternya terlampau banyak, atau bisa jadi ilustratornya tak ada (tak ada orangnya atau tak ada mood..hehe..)

HIMEKA






dimuat Mj. Bobo, 03 Oktober 2013

Cerpen anak yang satu ini, entah di mana file-nya bersembunyi. Tak kutemukan di mana-mana. :(

Selasa, 01 Oktober 2013

PINJAM, DONG!


dimuat Mj Bobo, 21 Februari 2013


"Pinjam pensilnya, dong."
Alina yang hendak menutup kotak pensilnya seketika menoleh ke samping kanan, asal suara barusan. Diwa tengah menatapnya dengan mimik memelas, dari kursinya yang berseberangan dengan tempat duduk Alina. Alina menghela nafas.
"Pensil ini maksudmu?" tanya Alina sembari mengacungkan pensil berhias boneka kelinci mungil di tangannya. Diwa mengangguk.
"Untuk apa?" Alina merendahkan suara, kuatir Bu Indah yang tengah sibuk memeriksa hasil latihan di mejanya, mendengar.
"Untuk menggambar. Pensilku ketinggalan di rumah." Diwa ikut-ikutan berbisik.
"Kenapa ditinggal terus, sih?" sungut Alina kurang senang.
Diwa selalu meminjam barang-barangnya, juga milik teman-teman lain. Nyaris setiap hari. Alasannya, ketinggalan. Aneh, sudah jelas mau ke sekolah pagi-pagi sekali, kenapa tak mempersiapkan alat-alat kelengkapan belajar sejak malam? Lebih parahnya lagi, barang yang dipinjam itu selalu lupa dikembalikan kalau tak diminta oleh pemiliknya. Dan jika sudah begitu, barang itu takkan pernah terlihat lagi selamanya. Alasan Diwa hanya dua, tertinggal dan hilang.
"Alina, sekali ini saja, deh. Besok nggak akan lupa lagi."
Alina cemberut. Ia mengalihkan pandangannya pada pensil yang ada dalam genggaman. Itu pensil baru yang dibelikan ayahnya ketika bertugas keluar kota beberapa hari lalu. Dia belum pernah menggunakannya. Rencananya, hari ini Alina akan memakainya untuk pelajaran menggambar. Kata ayah, pensil tersebut sangat halus dan cocok untuk menggambar.