Pages

Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 November 2013

BANGAU, BANGAU


foto oleh E.Andantino

Aku suka foto seperti ini. Kuminta dari seorang teman. Menatapnya seperti mengalirkan kesejukan yang kubutuhkan. Foto yang pas sebenarnya untuk disandingkan dengan puisi. Sayangnya, saat ini kepalaku terlampau penuh dengan kata-kata yang tak berguna. Jadi, puisinya menyusul sajalah..;) Aku namakan saja foto ini; BAYANG SERIBU BANGAU (meskipun bangaunya tak sampai seribu ;). Kulengkapi juga dengan salah satu buku koleksiku; SERIBU BURUNG BANGAU miliknya Kawabata. Mungkin lain kali bisa juga kusandingkan dengan seribu bangau kertas, agar segala harapan menjadi kenyataan..hehe..

Kamis, 10 Oktober 2013

ALICE MUNRO, RAIH NOBEL SASTRA 2013

[01-mirror-Alice+Munro-kredit-abebooks.jpg] Alice Munro (82)

Buku karya penulis Kanada, Alice Munro, pemenang Nobel Sastra 2013, dipajang di sebuah pameran buku di Frankfurt (10//10).

Komite Nobel di Stockholm telah mengumumkan Alice Munro, warga Kanada sebagai pemenang Hadiah Nobel 2013 untuk bidang Sastra. Dalam pengumuman hadiah, Kamis (10/10), Komite Nobel menyebut  Alice Munro, warga Kanada berusia 82 tahun sebagai "master” cerita pendek kontemporer.


Cerita-cerita Munro umumnya berlokasi di Kanada, dan sering menggunakan daerah asalnya di barat daya Ontario. Karyanya, sering menyiratkan pencerahan, dan telah dibandingkan dengan penulis Rusia Anton Chekhov, yang juga dianggap sebagai “master” cerita pendek.
Alice Munro, master cerpen dari Kanada cerpen dipuji sebagai penulis sejarah konprehensif dan manusiawi.

Munro adalah penulis Kanada pertama yang menerima penghargaan prestisius dari Swedish Academy ini. Dia mampu menangkap berbagai kehidupan dan kepribadian tanpa menghakimi karakternya. Luar biasa untuk konteks pemenang Nobel karena karya-karya Munro hampir seluruhnya cerita pendek. "Lives of Girls and Women" adalah novelnya.

Kritikus sastra menggambarkan Muncro sebagai Chekov dari Kanada atas kepiawaiannya menyusun narasi.
Munro lahir pada 10 Juli 1931 di Wingham, Ontario dan tumbuh di daerah pedesaan. Sang ayah, Robert Eric Laidlaw, dikenal sebagai petani dan peternak sementara ibunya adalah guru sekolah di satu kota kecil. Munro memutuskan ingin menjadi penulis ketika berusia 11 tahun.

Munro menjadi perempuan ke-13 yang memenangi hadiah ini sejak diselenggarakan pada 1901. Ia berhasil mengalahkan sejumlah sastrawan kondang lain, termasuk novelis Haruki Murakami dari Jepang.

“Saya bahagia dapat mempersembahkan hadiah ini untuk rakyat Kanada. Saya berharap hadiah ini dapat menarik minat dunia terhadap literatur Kanada,” kata Munro.
Menggambarkan Munro, kritikus sastra Amerika David Homel mengatakan kepada kantor berita Perancis baru-baru ini, "Dia menulis tentang perempuan untuk perempuan, tetapi tidak mengutuk lelaki.
  
Munro (82) mulai menulis cerita sejak remaja. Dia utamanya dikenal dengan cerita-cerita pendek dan telah menerbitkan banyak koleksi selama bertahun-tahun.Beberapa karya Munro yang terkenal antara lain "Who Do You Think You Are?" (1978), "The Moons of Jupiter" (1982), No Love Lost (2003), Vintage Munro (2004), Runaway (2004, pemenang The 2004 Giller Prize), The View from Castle Rock (2006), dan Too Much Happiness (2009) Koleksi terakhirnya berjudul Dear Life yang terbit tahun 2012.

Munro dikenal sebagai pendongeng yang baik, dengan ciri kejelasan dan realisme psikologis.

"Tulisannya sering menampilkan penggambaran kejadian keseharian yang menentukan, jenis pengalaman luar biasa, yang menerangi cerita yang melingkupi dan membiarkan pertanyaan eksistensial muncul dalam kilat," demikian pernyataan Swedish Academy.

Munro, yang mendapat hadiah delapan juta crown Swedia atau sekitar 1,25 juta dolar AS dari Komite Nobel, tinggal di Clinton, tak jauh dari rumah masa kecilnya di Ontario Barat Daya, Kanada. 
 Munro mengaku, setiap ide penulisannya berangkat dari pengalaman, anekdot,cerita di masyarakat hingga menjadi sebuah cerita lengkap.Dia juga selalu membiasakan menulis dengan komputer meskipun usianya telah lanjut.Dia juga menulis setiap hari sambil mengerjakan aktivitas rumah. Dia selalu memberikan nasihat kepada penulis muda untuk rajin membaca. Dia mengaku setiap penulis memang memiliki perbedaan dalam gayanya.Bagaimana kita jitu dalam menulis? “Jangan membaca (ketika menulis cerita), jangan berpikir, tapi tulislah,” paparnya.

“Jangan pernah menyerah dengan kesalahan dan kegagalan yang telah Anda perbuat,” imbuh Munro kepada Random House, situs kumpulan penulis ternama. Dalam menulis cerita pendek, Munro mampu menyajikan kisah kehidupan yang menyentuh hanya dalam satu halaman.Dia mengaku bercerita tentang kehidupan tidak lepas dari kedalaman karakter yang dimainkan dalam cerita itu.

“Bercerita dari hal sepele dan itu menjadi bagian paling menarik dalam kehidupan,”paparnya. Munro juga menuturkan bahwa dia selalu menulis di saat yang terbaik dalam kehidupannya.

Koleksi cerita pendeknya yang pertama, Dance of the Happy Shades (1968), meraih penghargaan sastra Kanada The Governor General’s Award. Tiga tahun kemudian karyanya yang lain,Lives of Girls and Women, mendapatkan Canadian Booksellers Association International Book Year Award.Pada 1980, karyanya yang lain, The Beggar Maid,masuk nominasi penghargaan tahunan Booker Prize untuk kategori fiksi. Dia juga pernah tiga kali mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jenderal Kanada untuk kategori fiksi sebanyak tiga kali.

Tak ayal, dia pun menjadi penulis cerita pendek yang termasyhur di Kanada. Sebagian besar tempat ceritanya berada di Southwestern Ontario dan the Canadian Pacific Northwest. Semunya ceritanya mampu mengalir bagi semua pembacanya. Munro mulai menulis cerita pendek sejak dia menjadi mahasiswi di Universitas Western Ontario pada 1950. Cerita pendek tersebut berjudul, “The Dimensions of a Shadow”.Dia keluar dari kuliahnya karena menikah dengan James Munro dan pindah ke Vancouver.

Setelah bercerai dengan suaminya pada 1972, dia kembali menjadi penulis. Pujian atas karya-karya Munro pun terus mengalir.Penulis Amerika Cynthia Ozick menyebut Munro sebagai “(Anton) Chekhov kita”. Chekhov merupakan penulis termasyhur dari Rusia. Ozick mengemukakan, alur dan cerita yang disajikan Munro sangat rapi dan gambaran di dalamnya begitu nyata. Penulis lainnya, Garan Holcombe,mengungkapkan cerita yang ditulis Munro mampu memberikan penerangan dan pencerahan bagi pembacanya.
Munro telah memenangi berbagai hadiah sastra lainnya, termasuk tiga Penghargaan Gubernur Jenderal Kanada, Man Booker International Prize dari Inggris, dan U.S. O. Henry Award untuk prestasi terus-menerus dalam fiksi pendek.

Hadiah untuk prestasi di bidang ilmu pengetahuan, sastra dan perdamaian pertama kali diberikan pada tahun 1901 sesuai dengan wasiat penemu dan pengusaha, Alfred Nobel.
Dihimpun dari berbagai sumber..

Jumat, 13 September 2013

VICKY-NISASI?


Vicky Prasetyo. Nama ini belakangan menguasai jagad pemberitaan dan obrolan di dunia maya. Saat menjenguk video wawancaranya di you tube, saya sempat tergelak sesaat. Begitupula kala menyimak beberapa komentar di jejaring sosial. Tapi kemudian saya berpikir, kenapa harus mentertawakan 'kepedean plus kedunguan' Vicky? Sungguhkah saya sudah lebih baik dari dia? Atau, tidakkah saya juga sempat terperangkap pada kalimat-kalimat yang salah dan tak pada tempatnya di waktu-waktu ke belakang?

Mungkin saja saya pernah terperangkap dalam kalimat-kalimat 'tinggi' seperti yang diucapkan Vicky, pada suatu masa, dimana kesadaran sedang tercerabut atau pikiran tengah kalut. Itulah bedanya dengan Vicky yang melakukannya sebagai hal yang biasa dalam komunikasinya dan percaya diri benar meski di bawah sorotan kamera.

Semua orang berkomentar, semua orang merasa lebih pintar. Vicky pun menjadi selebritis dadakan.
Lantas, apakah dengan membicarakannya tanpa henti seperti sekarang ini, kita tak sedang mempopulerkan bahasa 'ngawur kelas tinggi' milik Vicky? Kita membuat kalimat Vicky menjadi semakin memasyarakat, membumi, hingga ke kalangan tidak berpendidikan yang hanya menelan saja kalimat yang didengarnya. Mereka kira itu benar, keren dan wah. Maka terjadilah vicky-nisasi. Semua berkomunikasi ala Vicky. Dari mahasiswa, ibu-ibu rumah tangga, tukang beca, pengangguran/preman, bisa jadi orang gila juga.

Akan ke sanakah tujuan dari semua obrolan mengejek seorang Vicky ini? Dan si playboy cap sabun batangan itu pun akan tertawa bangga dan menepuk dada, juga merasa bahwa ia tak salah sama sekali dalam penempatan kalimat (pfuh, jadi ingat pidatonya yang berapi-api itu).

Atas kesadaran itulah saya mengurungkan niat untuk membuat atau mengomentari status tentang Vicky. Tulisan ini hanya sekadar mengingatkan, stop injeksi vicky-nisasi! Biarkan saja dia berbahasa seperti itu. Cerna saja sebisanya, sebagaimana kita berhadapan dengan profesor, tukang beca maupun orang berlainan suku/bangsa. Vicku berhak merasa benar untuk apa yang dicerna isi kepalanya sebagai kebenaran. Semoga saja Vicky tak berniat membuat cerpen seperti itu, yang celakanya diloloskan oleh redaktur yang terkantuk-kantuk dan bosan melihat tumpukan naskah di emailnya.. :(

Minggu, 21 Maret 2010

Aku Suka Hari Senin








Nikmatnya libuuuuurrrr......!!
Setelah sekian lama, akhirnya kesampaian juga menikmati libur Sabtu Minggu. Libur dalam arti yang sesungguhnya. Bukan libur dengan makna perpindahan kerja di tempat berbeda. Misal nih, libur dari urusan satu pekerjaan rutin di kantor tapi masih tetap harus mengerjakan setumpuk pekerjaan rutin lainnya di rumah. Lha kalau menurutku itu sih tak libur namanya.
Nah, yang Sabtu Minggu kemarin kunikmati adalah libur dalam arti sesungguhnya. Sesuatu yang sudah agak lama tak pernah kukecap nikmatnya. Nyantai di rumah, main dengan anak-anak, membuatkan mereka makanan istimewa, membaca dan menulis... Lalu Minggu-nya jalan-jalan ke Padang Panjang, ngumpul dengan teman-teman plus keluarga mereka masing-masing. Lanjut ke Bukittinggi, cuci mata sebentar lalu pulang.

Dampak dari libur ini benar-benar terasa. Khususnya di Senin pagi ini. Bangun jauh sebelum adzan Subuh berkumandang, menggeliat sebentar, senyumku mengembang saat membisikkan, Aku suka hari Senin...
Sebelumnya aku bahkan tak pernah merasa kalau Senin itu adalah hari pembuka, yang akan menjadi pintu utama masuknya hal-hal baru dalam enam hari setelahnya. Dan semangat serta energi positif yang meluap-luap ini, semoga bermuara pada hal-hal baik yang tertanam di benak. Bukankah kenikmatan yang telah diterima harus disyukuri dengan baik dan dimanfaatkan untuk menghasilkan segala hal baik juga? Tubuh memerlukan istirahat dari segala rutinitas.
Jadi, temanz...libur itu ternyata penting juga lho, untuk me-recharge spirit kita dalam menjalani hari dan memberi warna indah dalam catatan sejarah hidup kita. Karena setelah Sabtu Minggu berlalu, kau akan mampu tersenyum saat membuka jendela dan membiarkan mentari memberikan energi kehidupannya. Lalu membisikkan, Aku suka hari Senin..

Minggu, 14 Maret 2010

NABILA


Untuk bidadari cantikku,

NABILA FANNY SYAHIRA


9 tahun lalu,
kau hadir memberi warna baru
cinta baru
juga kisah baru
Seiring waktu
cintaku kian membesar bersama laju
tumbuh dalam pemahaman yang lugu
tentang kau dan duniamu
Harap ku tanam setiap detik
pada tembang yang kau dendangkan
dari eja dan kalimat sederhana
Semoga buahnya akan berkilau sempurna
Sesempurna asa yang kau bawa pada dunia
Amin..

Selamat ulang tahun, Sayang..

Sabtu, 13 Maret 2010

GEMPA, CERPEN DAN DEGUP JANTUNG oleh R.Yulia


Berdiam di sebuah kawasan rawan gempa seperti Sumatera Barat, tentu membutuhkan kekuatan mental dan jantung, yang melebihi orang-orang yang tak berada di area tersebut. Gempa hadir setiap saat, tak kenal waktu, tak kenal libur. Juga tak memiliki jadwal tetap. Kapan saja bisa datang. Menyentak dan membuat jantung berdegup dengan kecepatan maksimum. Seperti gempa besar 7,6 SR yang terjadi 30 September 2009 lalu, benar-benar mampu membuatku 'terbang' dari duduk dan menghambur keluar rumah. Kalau diingat-ingat, mungkin saat itu aku dapat diibaratkan elang yang melesat laksana kilat setelah sebelumnya menyambar anaknya yang tak paham bahaya. Bahkan jantungku pun ikut 'terbang', diikuti tubuh yang menggeletar. Saat itu hanya satu kata, pasrah dan ikhlas. Lalu setelah tenang selama lima bulan, tadi malam (120310) 'terapi kejut' itu kembali datang. Tepatnya pukul 00.17 WIB. Entahlah kalau jam di rumah terlambat ataupun cepat. Hanya beberapa menit setelah memasuki peraduan mimpi, gempa menyentak. Saat terjaga, yang dilakukan adalah reflek ritual gempa. Lompat dari ranjang, meraih anak-anak dan keluar rumah secepatnya. Lalu mematung, merasakan apakah masih ada getaran yang tersisa. Meramal, apakah telah aman untuk kembali ke rumah. Dan menentramkan degup jantung, irama nafas dan geletar tubuh. Lalu merengkuh anak-anak untuk memastikan, tak ada lagi bahaya di depan mereka. Meski sifatnya sementara. Ritual berikutnya, kembali ke rumah dan mencoba menghapus bayang-bayang malapetaka. Menyerahkan urusan selanjutnya pada Yang Kuasa, meskipun itu tak berarti berani membiarkan pintu dalam kondisi terkunci.. Dan tidur pun tak lagi berbuah mimpi. Status siaga dan waspada..(halah!) Paginya terjaga dengan sedikit kantuk menggantungi mata, mendengarkan tetangga kiri kanan berceloteh tentang 'mencekamnya' suasana tadi malam. Tak bernafsu menambahkan. Hanya senyum dan angguk untuk mengiyakan. Mulai membuka pintu ke dunia maya, menjelajah satu-persatu alamat yang tertera di kepala. Dan kado itu disuguhkan untukku. Cerpenku dimuat di salah satu surat kabar. Wuaahh...., darahku mendesirkan kebahagiaan. Degup jantungku menyiratkan lonjak kegirangan. Aih..., sebuah sensasi yang nikmat untuk dirasakan. Dan itu memacuku untuk kembali menelurkan tulisan. Gempa dan Cerpen, hmm.... Kiranya kedua hal itu mengalirkan dentum dan riak jantung yang nyaris senada. Meski beda warna dan muaranya... Salam,


Jumat, 12 Maret 2010

HIDUP INI INDAH



Hidup ini indah!
Itu benar. Ungkapan itu bukan hanya sekedar ungkapan. Hidup ini memang indah. Indah bukan hanya dilambangkan pada berapa sukacita dan tumpukan materi yang kita dapatkan. Tapi indah saat kita mampu memahami makna yang mengiringi setiap peristiwa yang kita alami, suka maupun duka. Sakit ataupun sehat.
Itu tak mudah!
Benar sekali. Karena bagaimana bisa kita mengatakan hidup ini indah ketika perut terasa lapar, ketika sakit menggerogoti iman atau bencana menghempas silih berganti. Bagaimana mungkin dapat kita katakan hidup ini indah pada para tuna wisma yang memenuhi emperan toko di larut malam? Atau pada para korban gempa, kebakaran dan mereka yang tertindas oleh kekuasaan?
Itu juga benar.
Tapi pernah kita berfikir tentang apa yang masih kita miliki (meski secuil), dibanding dengan apa yang sama sekali tak dimiliki orang lain? Saat lapar, mungkin kita dapat lebih merasa 'beruntung' ketika dibandingkan dengan mereka yang nyaris sekarat oleh kelaparan tak berkesudahan. Kita masih memiliki harapan untuk esok yang lebih baik dan lebih mengenyangkan, ketimbang mereka yang telah sekarat dan kehilangan harapan.
Inti dari semuanya adalah bersyukur. Dengan mensyukuri hidup yang telah diberikan Sang Pencipta, segalanya akan terasa indah. Segalanya akan terasa lapang. Dan segalanya akan terasa menyenangkan, meskipun dalam kesempitan. Dengan selalu bersyukur, kita takkan pernah kehilangan harapan. Dengan selalu bersyukur, kita akan lebih ringan untuk saling berbagi. Dan itulah wujud dan makna dari hidup itu sendiri...

Salam,