Tampilkan postingan dengan label cerpen anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen anak. Tampilkan semua postingan
Kamis, 10 Oktober 2013
HIMEKA
dimuat Mj. Bobo, 03 Oktober 2013
Cerpen anak yang satu ini, entah di mana file-nya bersembunyi. Tak kutemukan di mana-mana. :(
Selasa, 01 Oktober 2013
PINJAM, DONG!
dimuat Mj Bobo, 21 Februari 2013
"Pinjam pensilnya, dong."
Alina yang hendak menutup kotak pensilnya seketika menoleh ke
samping kanan, asal suara barusan. Diwa tengah menatapnya dengan
mimik memelas, dari kursinya yang berseberangan dengan tempat duduk
Alina. Alina menghela nafas.
"Pensil ini maksudmu?" tanya Alina sembari mengacungkan
pensil berhias boneka kelinci mungil di tangannya. Diwa mengangguk.
"Untuk apa?" Alina merendahkan suara, kuatir Bu Indah yang
tengah sibuk memeriksa hasil latihan di mejanya, mendengar.
"Untuk menggambar. Pensilku ketinggalan di rumah." Diwa
ikut-ikutan berbisik.
"Kenapa ditinggal terus, sih?" sungut Alina kurang senang.
Diwa selalu meminjam barang-barangnya, juga milik teman-teman lain.
Nyaris setiap hari. Alasannya, ketinggalan. Aneh, sudah jelas mau ke
sekolah pagi-pagi sekali, kenapa tak mempersiapkan alat-alat
kelengkapan belajar sejak malam? Lebih parahnya lagi, barang yang
dipinjam itu selalu lupa dikembalikan kalau tak diminta oleh
pemiliknya. Dan jika sudah begitu, barang itu takkan pernah terlihat
lagi selamanya. Alasan Diwa hanya dua, tertinggal dan hilang.
"Alina, sekali ini saja, deh. Besok nggak akan lupa lagi."
Alina cemberut. Ia mengalihkan pandangannya pada pensil yang ada
dalam genggaman. Itu pensil baru yang dibelikan ayahnya ketika
bertugas keluar kota beberapa hari lalu. Dia belum pernah
menggunakannya. Rencananya, hari ini Alina akan memakainya untuk
pelajaran menggambar. Kata ayah, pensil tersebut sangat halus dan
cocok untuk menggambar.
KALUNG TIARA
dimuat Mj Bobo, 23 Februari 2012
Tiara bangun kesiangan. Matahari mulai meninggi. Cahayanya yang
hangat telah menerpa seluruh tubuh Tiara. Ia menggeliat malas dan
perlahan-lahan membuka mata. Beberapa kali matanya mengerjap,
menghalau silau cahaya matahari. Ugh.., pasti tidurnya nyenyak sekali
malam tadi. Ia bahkan tak ingat, mimpi apa yang dialaminya sehingga
bisa bangun sesiang ini. Yang jelas, itu pasti mimpi indah!
Tiara bangkit dari ranjangnya yang empuk. Keysha telah membelikannya
sebuah ranjang empuk di toko perlengkapan hewan seminggu yang lalu.
Jadi, ia tak perlu tidur di kotak lagi. Sayang, Mama Keysha melarang
gadis kecil itu untuk menempatkan Tiara di kamarnya. Alasannya, takut
Tiara buang kotoran seenaknya.
Dengan gontai Tiara melangkah menuju dapur.
Makanan dan minumannya telah tersedia di sana. Ia menghabiskan
semuanya dengan lahap. Bangun kesiangan telah membuat perutnya
benar-benar lapaaarrr. Setelah makan, berjemur dan membersihkan
bulu-bulunya, tiba-tiba saja Tiara merasa bosan. Ia ingin
berjalan-jalan ke luar rumah. Menjadi satu-satunya kucing di rumah
Keysha, kerap kali membuatnya bosan. Meskipun Keysha sangat
menyayangi dan memanjakannya. Seandainya Keysha membawakan seekor
kucing lagi untuk menjadi temannya, tentu ia takkan merasa sebosan
ini.
BENDA CANTIK DI ETALASE TOKO
dimuat Mj Bobo, 07 April 2011
Es krim vanilla! Airin menatap anak-anak yang mengerumuni tukang es
krim dengan penuh minat. Di siang yang terik seperti ini, es krim
adalah salah satu minuman yang paling diinginkannya. Apalagi es krim
vanilla. Wuih, membayangkan rasanya saja sudah sangat menyiksa. Airin
mengayunkan kakinya menuju tukang es krim. Namun, dua langkah lagi
mencapai tujuan, Airin menghentikan langkahnya dengan setengah
terpaksa. Tidak…tidak, ia tak boleh membelanjakan uang jajannya.
Bukankah ia telah berjanji untuk tak jajan selama seminggu? Dan ini
sudah memasuki hari kelima. Berarti tinggal dua hari lagi. Kalau ia
membeli es krim hari ini, berarti uangnya takkan cukup di hari ke
tujuh nanti. Berfikir begitu, Airin memutar langkahnya. Menjauh dari
tukang es krim dan melanjutkan perjalanan, pulang ke rumah.
Airin tiba di rumah dengan peluh membanjiri dahi,
leher dan baju seragamnya. Jarak antara rumah dan sekolah memang
lumayan jauh. Tapi itu tak menyurutkan semangat Airin. Bayangan akan
sesuatu yang dilihatnya di etalase toko beberapa hari lalu, membuat
keletihannya tak terasa.
“Airin, habis ngapain? Kok mandi keringat
begitu?” Mama menegurnya saat berpapasan di ruang tamu. Airin
tersenyum. Wajahnya memerah karena terpaan sinar matahari.
“Lari-lari kecil tadi, Ma,” kilah Airin sambil buru-buru masuk
kamar. Takut Mama bertanya macam-macam lagi. Mama geleng-geleng
kepala.
“Cepat ganti bajunya, Airin. Basah semua tuh,” kata Mama sebelum
Airin menutup pintu.
“Iya, Ma,” seru Airin sambil menarik nafas lega. Ia segera
mengganti pakaian dan membaringkan tubuh di ranjang. Kedua kakinya
diangkat tinggi dan menyandar ke dinding di samping ranjang. Duh,
nyaman sekali rasanya.
Hari keenam. Airin tersenyum kecil. Besok adalah puncak dari
perjuangannya. Uang yang terkumpul selama tujuh hari akan ditukarnya
dengan benda yang diinginkannya. Benda cantik di etalase toko.
Kamis, 26 September 2013
TANTI MENCARI PENCURI
Dimuat Mj. Bobo, 29 Juli 2010
Oleh; R.Yulia
Tanti mengaduk-aduk isi tasnya dengan kesal. Ia kehilangan pensil
Barbie yang baru kemarin dibeli. Itu sangat menyebalkan. Terlebih
dalam satu minggu ini ia telah kehilangan banyak barang. Mulai dari
penghapus, peraut, pena, gantungan kunci dan pin. Menyebalkan!
Padahal kesemuanya adalah benda kesayangan Tanti. Ia memilihnya
dengan sangat cermat di toko. Dan semua benda itu hilang hanya dalam
waktu dua hari setelah dibeli!
Tanti tak juga menemukan barang-barangnya. Padahal, ia telah
menggeledah lemari dan laci meja belajarnya. Huh, ini tak bisa
dibiarkan berlama-lama. Ia harus mencari tahu siapa yang telah
mencuri barang-barangnya. Kalau tidak, maka akan lebih banyak lagi
barang yang hilang. Tapi bagaimana caranya? Tanti berfikir keras.
Sesaat kemudian wajahnya menjadi cerah. Senyumnya merekah. Akhirnya
ia menemukan caranya! Ia akan mengintip gerak-gerik pencuri itu.
Tanti yakin, pencurinya adalah salah seorang dari teman sekolahnya.
Dan ia akan memulai aksi pengintipan itu esok hari, saat jam
istirahat. Karena biasanya di jam itulah Tanti meninggalkan tasnya.
Esok harinya, saat jam istirahat tiba, Tanti cepat-cepat pergi
meninggalkan kelas. Ia memutar ke belakang kelas. Ia mengambil bangku
taman, menggesernya ke dinding dan naik ke atasnya. Kini ia dapat
mengawasi seluruh isi kelas dari jendela yang terbuka. Tanti
berhati-hati sekali agar tak sampai terlihat teman-temannya yang
keluar masuk kelas. Ia menunggu dengan sabar. Namun, sampai bel masuk
berdentang, Tanti tak melihat seorangpun temannya yang mendekati
mejanya. Apalagi membuka tasnya. Ah..Tanti mendesah kecewa.
Langganan:
Postingan (Atom)




