Pages

Sabtu, 07 September 2013

JODOH


Oleh: R. Yulia
Tribun Jabar, 10062012 

"Berdirilah."
"Untuk apa?"
"Aku tak memintamu untuk bertanya. Berdirilah." Pintanya memaksa. Dia, perempuan berwajah rembulan. Bulat, sebulat-bulatnya
Meski enggan, aku menurut. Beranjak dari sofa lembut yang sejak tadi kubelai-belai.
"Berputar." Aku mendelik.
"Berputar." Kuputar tubuhku dengan malas-malasan.

MENUNGGU OMBAK


Oleh; R.Yulia
Padang Ekspres, 07022011 

Andini membuka mata dengan berat. Perih yang menggigit dari lebam di lingkaran mata, menginginkan pejaman yang menentramkan. Susah-payah ia mengerjap-ngerjap, menyesuaikan diri dengan semburat matahari yang menerobos dari kisi-kisi jendela. Hanya sedikit cahaya. Selebihnya gulita.
Andini mencoba bangkit. Melawan rasa sakit. Kalau saja ada yang menanyakan kepadanya, dimana sakit itu terasa, niscaya takkan pernah ada jawaban. Bagi Andini, diam adalah harga yang harus dibayarnya untuk kehidupan. Ia sudah terlanjur membiasakan diri untuk selalu begitu. Diam. Meskipun setiap inci tubuhnya mampu menyuarakan ratusan kisah yang akan menghamburkan seluruh persediaan airmata di dunia, toh ia tetap diam. Tak ada yang mampu mengubahnya. Seorang pun tidak!

SUARA-SUARA DALAM KEPALA





Oleh; R. Yulia
Jurnal Medan, 141011
  

Aku mabuk! Benakku dipenuhi jejalan bohlam ribuan watt. Aneh. Mataku entah sawan atau tidak, malah sibuk mengerjap-ngerjap, mengintai dalam gelap. Awan hitam erat merangkul langit, menutup celah tempat dimana rembulan selalu menyelinap untuk membagi cahayanya yang menjemukan.

Aku bahkan tak mampu meraba, pada sisi mana air menjilati tiang penyangga jermal saat ini. Biasanya, saat-saat pasang naik, air yang berayun liar, cepat menenggelamkan kakiku yang berjuntai. Dan sesekali deburan ombak memercikkan beberapa buliran asinnya ke wajah dan dadaku yang telanjang. Tapi tidak malam ini! Semua begitu ganjil. Terkecuali bayangan yang kini bermain di pelupuk mata.

LONCENG

 R. Yulia
Padang Ekspres, 30102011


Sebenarnya tak ada yang istimewa dengan besi persegi yang tergantung di teras rumah kosong itu. Hanya sebuah lempengan kusam dengan bulatan di tengah, tempat bergantungnya sebuah pasak besi sepanjang 30 sentimeter. Sekujur tubuhnya dipenuhi lubang pori-pori yang lahir dari ketukan pasak besi yang berulang-ulang selama bertahun-tahun. Ya, besi itu hanya sebuah lonceng tua, yang dulunya digunakan sebagai penanda bermula dan berakhirnya pelajaran di sekolah dasar yang berada tepat di sebelah rumah kosong itu. Baru sebulan belakangan lonceng itu tergantung di sana. Fungsi awalnya sudah digantikan oleh bel yang lebih modern, yang meraung-raung memekakkan telinga setiap jamnya. Raungan itu sangat efektif memaksa anak-anak memasuki kelas masing-masing. Sehingga tak ada lagi yang memperpanjang waktu istirahat di kantin ataupun bergerombol di bawah pohon mangga yang rimbun di belakang sekolah.

Lonceng besi itu kini hanyalah sebuah benda tak bernyawa dan tak berharga. Tak ada yang merasa kehilangan ataupun merindukan kehadirannya. Tak ada yang menanyakan kabarnya. Bahkan tak seorang pun yang berminat mengadopsinya Tak ada. Lonceng besi tua itu hanya bergantung diam di sana, di tiang penyangga beranda yang dipenuhi sarang laba-laba, menekuri perjalanan hidupnya sepanjang tahun-tahun ke belakang.