Pages

Selasa, 12 November 2013

KITA ADALAH KITA KEMUDIAN




R. Yulia

Kita adalah percakapan sepasang asing
yang melompat-lompat pada bibir jurang dan tebing
kata-kata meletus menyerupai balon
di tangan balita yang kemudian merengek kehilangan
lalu pada suatu waktu percakapan kita menggigil oleh sebab angin yang tak sepaham
hujan yang turun tanpa kabar dan badai yang pernah kau cemaskan
runtuh sudah kata jadi abu, abu berloncatan seperti mata pisau, menikam
mengubur gaduh, berkeriapan
kita kemudian menjelma menjadi demam dan salesma yang mengigau sendirian

KUIJINKAN

 
R. Yulia

Kuijinkan kau bersuara; lantang dan perkasa, menggema hingga ke bilik-bilik tanpa nama
kamar-kamar yang beku dan angkuh, dinding-dinding yang tak sesungguhnya jemu, ladang-ladang
tanpa empu, ilalang patah tepi, sungai sengkarut, awan kelabu muda dan apapun yang tegak memandang
lalu katakan; "Sesungguhnya aku , buih-buih sarapan pagi tadi, yang kau muntahkan di kelok 42."



PESAN, HUJAN



R. Yulia

Hujan mengantarkan sebaris pesan berselimut kuyup
Pintuku enggan terbuka
seribu ketukan hanya mengalir sia-sia
"Pergilah!" suaraku tertelan gemuruh
jemarimu yang mengelupas gaduh

KUBERI KAU NAMA



R. Yulia

Kuberi kau nama, agar dalam keramaian ku bisa menyapa
Tentu, seseorang dan lainnya bisa saja memiliki nama yang serupa
Tapi namamu adalah nama yang satu-satunya beriring dengan napasku
Kupayungi dengan harapan yang membesar waktu ke waktu
Maka saat kupanggil namamu, aku yakin takkan pernah keliru
Karena yang menyerumu bukan hanya suaraku
Tapi hati yang senantiasa didera rindu