Pages

Kamis, 26 September 2013

KRISIS




Cerpen berjudul KRISIS ini dimuat Tabloid Nova tanggal 22 Maret 1998. Memang ditulis saat krisis moneter. Tak ada filenya karena ditulis saat di kantor, pakai disket jadul. Hanya bukti terbit ini saja yang masih tersimpan.


PINK


Oleh; R.Yulia

Dimuat Mj Gadis, 19 September 2011

“Hallo, Pink.”
Seseorang memanggilku begitu. Renyah. Dengan senyum sumringah. Bagaimana bisa aku menolaknya? Lalu seulas senyum yang sama, merekah di bibirku. Namun. buru-buru aku menarik kembali sudut bibir. Dari ekor mata, aku mengawasinya hingga hilang di ujung koridor.
Pffuh. Kenapa begitu sulit untuk menolak senyumnya? Kenapa pesonanya begitu kuat? Mencengkram bukan hanya aku, melainkan seluruh penghuni sekolah. Dia memang istimewa, akuku dalam hati. Tapi aku membencinya! Aku tak ingin tersenyum untuknya. Lantas gimana caranya agar kedua sudut bibir ini gak tertarik keluar? Uh, sepertinya aku harus menanyakan tipsnya ke Mbah Google.
“Wah..wah.., kayaknya ada yang klepek-klepek nih?” Kalimat menggoda itu mengulik telinga. Memaksaku memutar tubuh dan mencari tahu siapa pemiliknya. Jihan. Aku mencibir.
“Nggak segitunya, ah..’” bantahku seketika.
“Yuhuuu… , masa sih? Lihat, wajahmu memerah tuh!” Jihan bersiul panjang. Refleks kuraba permukaan wajah. Sedikit rasa panas menjalar di sana. Jihan terbahak.
“Udahlah. Akui aja. Nggak ada yang ngelarang kok. Lagian, masa perang dingin melulu. Damai dong.., damaiiiiii.” Jihan masih terus meledekku.
“Sok tahu!” Aku mengibaskan tangan dan berlalu dengan angkuh. Damai? Dengan Ray? Oh, mustahil..!! Aku menarik nafas lega. Jihan tak mengikuti.
Namun sayangnya, lepas dari Jihan tak berarti aku lepas dari masalah. Karena di depanku telah berdiri tegak seorang cowok. Tepatnya, makhluk Tuhan yang paling ingin kuhindari saat ini. God, tolong berikan aku arah yang lain… Aku celingak-celinguk. Nihil. Hanya tersisa dua pilihan, meneruskan langkah hingga ke hadapannya atau berbalik kembali ke kelas. Setelah berfikir sejenak, aku menarik nafas panjang. Baiklah, aku akan menghadapinya.

PUTRI REMBULAN DAN PANGERAN MALAM



Oleh; R.Yulia
Dimuat Mj Story, 25 Januari 2010

. Malam mulai turun menggandeng bulan dan jutaan bintang. Menghiasi hamparan langit yang pekat. Sepekat hati Chiva yang sarat keluh.
Ini hari ke sepuluh. Divo belum juga datang. Tiga hari lagi tanggal 14. Mungkinkah Divo lupa akan janjinya? Chiva menarik nafas panjang, mencoba melepaskan beban berat di dadanya.
“Aku harus pergi…” bisik Divo pagi itu, di taman lingkar rumah sakit. Chiva dapat merasakan getaran suara Divo, karena wajah pemuda itu begitu dekat di telinganya. “Pergi? Pergi kemana?” tanya Chiva mencoba wajar. Meskipun entah kenapa hatinya gelisah. “Pulang maksudnya?”
Divo menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia tertunduk. Meskipun saat ini mudah untuknya berbohong, tapi Divo tak tega untuk melakukannya.
“Mmm, ya…pulang. Tapi aku juga tak bisa datang menjengukmu beberapa hari ke depan.” jawabnya berat. Chiva tersenyum.
“Kenapa? Kamu ujian? Banyak tugas ya?” Divo terdiam. Ditatapnya wajah Chiva yang begitu tulus. Dan itu membuat hatinya menjerit. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Sepasang matanya berkaca-kaca. Ia mengangguk. Tapi Chiva tak melihatnya.

GURUKU TAMPAN SEKALI


Oleh : R. Yulia
Dimuat Mj Kreatif, 23 Juni 2011 

Aku berjalan terburu-buru menuju kelas. Sudah lonceng. Tak seorang pun berada di luar kelas lagi. Duh, semoga Pak Rahim belum masuk ke kelas, harapku. Dan, hup. Aku tiba di ambang pintu kelas, disambut tawa riuh seluruh teman. Ada apa? Aku kebingungan. Olala, ternyata teman-teman mengira aku adalah Pak Rahim. Cihuii, Pak Rahim belum masuk. Aku bergegas menuju bangku. Kelas gaduh kembali.
“Pak Rahim nggak masuk, ya?” tanyaku pada Karen, teman sebangkuku. Cewek berhidung bangir berkacamata itu menggeleng.
“Kabarnya sih, Pak Rahim pindah.” Aku melotot. Pindah? Ya ampuun, beliau kan guru favoritku.
“Pindah kemana?” Karen angkat bahu.
“Tapi sudah ada penggantinya.”
“Oh ya?” Karen tak sempat menjawab. Kelas mendadak sepi. Seorang perempuan berjas biru memasuki kelas dengan langkah berwibawa. Bu Dian, sang kepala sekolah. Aku mengubah posisi duduk menjadi lebih tertib. Bu Dian terkenal galak. Tak seorang siswa pun ingin bermasalah dengan beliau. Termasuk, aku.
Tak lama, menyusul masuk seorang lelaki muda yang……ooow ya ampuunn. Aku terpana melihat lelaki yang memasuki kelas dengan senyum menawan itu. Gila, tampan sekali, decak hatiku.
“Mungkin ini pengganti Pak Rahim,” bisik Karen. Pandanganku tak teralihkan sedikitpun. Duh, lelaki itu mirip sekali dengan bintang idolaku.
Di depan kelas, Bu Dian memberi penjelasan singkat tentang lelaki itu. Benar, lelaki tampan itu adalah guru Bahasa Indonesia yang menggantikan Pak Rahim. Aku kegirangan. Asyiiikk, pasti menyenangkan diajar oleh guru setampan itu.